Home » Posts filed under Kesehatan
Berita Showing posts with label Kesehatan. Show all posts

Peningkatan produksi hormon seks pada saat pubertas umumnya akan menyisakan keadaan yang konstan bagi kehidupan reproduksi seorang perempuan. Masa pubertas pada perempuan ditandai dengan dimulainya siklus menstruasi. Peningkatan hormon seks memicu pelebaran pembuluh darah kecil pada gusi. Pelebaran darah tersebut dapat dilihat dengan adanya gusi yang memerah, perdarahan pada radang gusi, dan bengkak.
Mikroba pada fase di atas berubaha dari flora mikroba yang “menyehatkan” menjadi mikroba yang bersifat destruktif atau bersifat pathogen. Perubahan ini mengakibatkan peningkatan kadar hormon dalam darah dimana bakteri patogen dapat menggunakannya untuk terus tumbuh dan bertambah banyak (berproliferasi). Keberadaan plak dan karang pada gigi juga akan semakin memperburuk kondisi di atas.
Hal ini semakin menguatkan akan pentingnya penanaman kebiasaan kesehatan gigi di usia dini, serta melakukan pemeriksaan dan pembersihan gigi secara rutin. Kecenderungan kasus peradangan dan gigi yang bengkak dihubungkan pada masa pubertas dan akan semakin menurun ketika sudah usia lanjut.
Namun demikian, perempuan mengalami peradangan menjelang datangnya masa menstruasi. Munculnya gusi merah, bengkak, perih pada gusi.dan luka pada mulut menjadi tanda yang biasa. Tanda-tanda peradangan akan menghilang seiring dengan datangnya periode menstruasi. Oleh karena itu, higienitas mulut yang tidak adekuat dapat meningkatkan keparahan gangguan mulut yang menyebabkan rasa tak nyaman.
Mikroba pada fase di atas berubaha dari flora mikroba yang “menyehatkan” menjadi mikroba yang bersifat destruktif atau bersifat pathogen. Perubahan ini mengakibatkan peningkatan kadar hormon dalam darah dimana bakteri patogen dapat menggunakannya untuk terus tumbuh dan bertambah banyak (berproliferasi). Keberadaan plak dan karang pada gigi juga akan semakin memperburuk kondisi di atas.
Hal ini semakin menguatkan akan pentingnya penanaman kebiasaan kesehatan gigi di usia dini, serta melakukan pemeriksaan dan pembersihan gigi secara rutin. Kecenderungan kasus peradangan dan gigi yang bengkak dihubungkan pada masa pubertas dan akan semakin menurun ketika sudah usia lanjut.
Namun demikian, perempuan mengalami peradangan menjelang datangnya masa menstruasi. Munculnya gusi merah, bengkak, perih pada gusi.dan luka pada mulut menjadi tanda yang biasa. Tanda-tanda peradangan akan menghilang seiring dengan datangnya periode menstruasi. Oleh karena itu, higienitas mulut yang tidak adekuat dapat meningkatkan keparahan gangguan mulut yang menyebabkan rasa tak nyaman.

Sebagian perempuan mungkin pernah mengalami dan merasakan perdarahan yang berat saat haid. Terkadang kita sering berpikir apakah perdarahan tersebut termasuk normal atau tidak (perdarahan berat saat haid/ menorrhagia).
Lalu bagaimana cara kita tahu perdarahan yang kita alami termasuk tidak normal? Cara termudah adalah dengan mencatat seberapa sering kita mengganti pembalut atau tampon. Seseorang didiagnosa menderita menorrhagia (perdarahan berat saat haid), jika selama haid, harus sering mangganti pembalut lebih dari 1-2 jam sekali, atau jika selama seminggu penuh kita mengalami perdarahan yang banyak.
Sepuluh penyebab teratas perdarahan berat saat haid (menorrhagia):
1. Ketidakseimbangan hormon saat remaja atau menjelang masa menopause merupakan penyebab yang terbanyak . Pada saat remaja setelah datangnya haid untuk pertama kalinya, dan beberapa tahun sebelum datangnya menopause, kadar hormon mengalami proses fluktuasi yang bisa berakibat perdarahan berat. Oleh karena itu, seringkali untuk menangani menorrhagia akibat ketidakseimbangan hormon melalui pemberian pil KB atau hormon lain.
2. Tumor fibroid pada rahim. Perlu diketahui bahwa tumor fibroid bersifat tumor jinak dan biasanya terjadi di usia 30an atau 40an tahunan. Hingga kini penyebabnya belum jelas. Beberapa operasi tersedia untuk mengatasi tumor fibroid mulai dari myomectomy, endometrial ablation, uterine artery embalization, dan terapi balon rahim seperti juga hysterectomy. Pengobatan non-operasi menggunakan agonists gonadotropin releasing hormone (GnRH), kontrasepsi oral, hormon androgen, RU486 atau mifepristone salah satu jenis pil aborsi, dan gestrinon. Agonist GnRH adalah obat yang bekerja melawan GnRH pada otak. Sedangkan beberapa perempuan mengaku pengobatan alami lebih efektif. Jika masa menopause muncul, tumor biasanya ukurannya mengecil dan menghilang meski dengan tanpa pengobatan.
3. Polip serviks. Polip berukuran kecil, tumbuh di permukaan mukosa serviks, atau pada saluran endoserviks dan menonjol pada mulut serviks. Penyebabnya belum jelas, namun seringkali akibat infeksi dan dikaitkan dengan respon abnormal terhadap meningkatnya kadar estrogen atau terhalangnya pembuluh darah kecil pada serviks. Sebagian besar perempuan yang menderita polip serviks adalah yang berusia 20 tahun dan telah memiliki anak. Biasanya diobati dengan pengobatan rawat jalan.
4. Polip endometrium. Dia bukan kanker, tumbuh dan menonjol dipermukaan rahim. Penyebab belum jelas, walaupun demikian keberadaannya sering dihubungkan dengan kelebihan kadar estrogen atau beberapa tipe tumor ovarium. Pengobatan dilakukan dengan hysteroscopy dan D&C. Dengan pemeriksaan laboratorium patologi maka akan diketahui status polip, apakah mengarah ke kanker atau tidak.
5. Penyakit Lupus. Lupus adalah peradangan kronis pada beberapa bagian tubuh, khususnya kulit, tulang sendi, darah dan ginjal dan termasuk penyakit autoimun. Para penderita Lupus diyakini mempunyai kecenderungan genetik Lupus. ilmuwan meyakini bahwa faktor lingkungan, infeksi, antibiotik (Sulfa dan Penicillin), sinar UV, stres yang berat, hormon dan obat-obatan memicu munculnya gejala Lupus. Gejala-gejala antar pasien satu dan yang lain bervariasi, pengobatan dilakukan melalui mengindari stres berat hingga pengobatan non-steroid anti peradangan atau NSAIDS, asetaminofen, steroids, antimalarial sytoksik atau obat immunosuppressif, dan antikoagulan.
6. Penyakit Radang Panggul (PRP) adalah infeksi satu atau lebih organ yang berakibat pada rahim, tuba falopi, dan serviks. PRP sering disebabkan oleh infeksi menular seksual. Pengobatan PRP yang dianjurkan yaitu dengan terapi antibiotic.
7. Kanker serviks. Muncul ketika sel-sel pada serviks berkembang abnormal dan jumlahnya tidak terkendali dan menghancurkan bagian-bagian tubuh yang sehat. Hampir lebih dari 90% kanker serviks disebabkan oleh Human papillomavirus (HPV). Pengobatan dapat dilakukan dengan operasi, kemoterapi dan terapi dengan radiasi.
8. Kanker endometrium. Perempuan yang divonis kanker endometrium, umumnya berusia lebih dari 50 tahun, pernah mengalami hyperplasia pada endometrium, atau sering menggunakan terapi penggantian hormon (hormone replacement therapy). Pengobatan pertama dilakukan melalui pengangkatan rahim (hysterectomy), jika memungkinkan dengan kemoterapi atau radiasi.
9. Intrauterine devices (IUD). Perempuan yang menggunakan IUD berisiko mengalami perdarahan saat haid. Bila hal ini terjadi segera ganti IUD dengan metode kontrasepsi yang lain yang sesuai.
10. Gangguan perdarahan. Jika perdarahan yang timbul sulit untuk dihentikan. Jenis paling umum penyebab gangguan perdarahan von Willebrand Disease

Ternyata, indung telur (ovarium) seorang wanita pun tidak luput dari serangan kanker. Tumor ganas yang tumbuh dalam organ reproduksi ini kita kenal dengan sebutan kanker indung telur. Meski lebih sering diderita oleh para wanita yang berusia lebih dari 50, kanker ini sebenarnya dapat menyerang wanita dari kelompok usia yang lebih muda. Berdasarkan jenis sel yang membentuknya, kanker indung telur dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu: kanker epitelial, kanker sel germinal, dan kanker stromal. Kanker epitelial ialah kanker indung telur yang bermula di permukaan ovarium dan merupakan jenis yang paling lazim ditemukan. Sedangkan kedua jenis yang lainnya lebih jarang ditemukan. Bagaimana tanda dan gejalanya?Berhubung tanda dan gejalanya yang tidak jelas, kanker indung telur sering kali baru terdiagnosa pada stadium yang lebih lanjut dimana massa tumor sudah mulai menekan organ-organ di sekitarnya. Namun, tanda dan gejala kanker indung telur dapat berupa:
* Rasa tidak enak di perut.
* Gangguan saluran cerna yang terus-menerus, seperti diare, kembung, atau sembelit.
* Rasa nyeri dan berat di rongga panggul.
* Peningkatan atau penurunan berat badan yang tidak jelas penyebabnya.
* Pembengkakan perut yang tidak nyeri.
* Perdarahan melalui vagina yang tidak lazim.
* Mual-mual.
* Kehilangan nafsu makan.
* Sering buang air kecil.
* Sesak napas.
* Demam.
* Nyeri saat berhubungan intim.
Bagaimana kanker ini bisa timbul? Ketika sel-sel telur menembus selubung ovarium pada saat ovulasi, selubung tersebut mengalami sedikit kerusakan –kadang-kadang bahkan sampai terjadi sedikit perdarahan. Kemudian sel-sel baru tumbuh untuk menggantikan sel-sel yang telah rusak. Kadang-kadang, sebuah sel abnormal tercipta dan sel itu pada akhirnya dapat menjadi sebuah sel kanker yang ganas. Namun, para ahli masih belum mampu memastikan faktor apa yang memicu tumbuhnya sel-sel abnormal ini. Sel-sel kanker dapat tumbuh keluar dari ovarium serta menyebar ke berbagai jaringan dan organ di dekatnya. Bila kanker indung telur yang diderita oleh seorang wanita mulai mengalami penyebaran, maka ia cenderung untuk menyebar ke peritoneum (selaput dinding perut) dan diafragma (sekat rongga badan). Terkadang, sel-sel kanker juga dapat menyebar melalui pembuluh darah atau pembuluh getah bening. Apabila keadaan ini terjadi, maka sel-sel kanker dapat menyebar dan tumbuh sebagai jaringan-jaringan tumor baru di berbagai bagian tubuh yang lain. Jadi, apa saja faktor risikonya? Para ahli telah menemukan sederetan faktor spesifik yang dapat meningkatkan risiko seorang wanita mengidap kanker indung telur jenis epitelial. Faktor-faktor tersebut diantaranya:
* Usia: Sebagian besar kanker indung telur mulai berkembang setelah seorang wanita memasuki masa menopause. Lebih kurang setengah dari kasus kanker indung telur ditemukan pada wanita-wanita yang telah berusia lebih dari 65.
* Riwayat reproduksi: Para wanita yang mulai datang bulan sebelum usia 12, tidak memiliki anak atau memilikinya setelah usia 30, dan/atau mengalami menopause setelah usia 50, kemungkinan memiliki risiko mengidap kanker indung telur yang lebih besar.
* Penggunaan obat-obat kesuburan: Setelah melakukan serangkaian penelitian, para ahli menemukan bahwa penggunaan obat-obat kesuburan dalam waktu lama dapat meningkatkan kemungkinan timbulnya kanker indung telur. Apalagi bila pemakainya tidak pernah berhasil mencapai kehamilan.
* Riwayat kanker indung telur dalam keluarga: Risiko mengidap kanker indung telur para wanita dapat meningkat bila ada anggota keluarga mereka yang mengidap kanker tersebut. Sekitar 10 persen kasus memiliki riwayat kanker indung telur dalam keluarga.
* Riwayat kanker payudara: Para wanita yang pernah mengidap kanker payudara ternyata memiliki risiko yang lebih besar juga untuk mengidap kanker indung telur.
Sebagai informasi, faktor-faktor risiko di atas tidak berlaku untuk kedua jenis kanker indung telur yang lain. Kesulitan untuk melakukan deteksi dini Para wanita dan dokter boleh dikatakan 'buta' ketika berbicara mengenai pemeriksaan dan deteksi dini. Pada saat ini masih belum ada jenis pemeriksaan dan metode deteksi terbaik untuk kanker ovarium. Hal terbaik yang dapat dilakukan adalah menyarankan agar para wanita melakukan pemeriksaan fisik dan panggul secara rutin setiap tahun. Selama suatu pemeriksaan panggul, dokter akan menilai keadaan kedua indung telur dan rahim untuk mengetahui ukuran, bentuk, dan konsistensinya. Para dokter mungkin akan merekomendasikan pemeriksaan USG transvagina bagi para wanita yang berisiko tinggi. Pemeriksaan ini dilakukan dengan memasukkan sebuah instrumen lewat vagina dan hasilnya ternyata cukup dapat diandalkan. Para dokter mungkin juga akan melakukan suatu tes darah CA-125 bagi mereka yang berisiko tinggi. CA-125 merupakan suatu senjata yang cukup ampuh untuk memonitor apakah kanker indung telur yang telah diobati mulai kambuh kembali. Namun hasil-hasilnya sebagai sebuah alat pemeriksaan awal seringkali keliru dan menyesatkan.
* Rasa tidak enak di perut.
* Gangguan saluran cerna yang terus-menerus, seperti diare, kembung, atau sembelit.
* Rasa nyeri dan berat di rongga panggul.
* Peningkatan atau penurunan berat badan yang tidak jelas penyebabnya.
* Pembengkakan perut yang tidak nyeri.
* Perdarahan melalui vagina yang tidak lazim.
* Mual-mual.
* Kehilangan nafsu makan.
* Sering buang air kecil.
* Sesak napas.
* Demam.
* Nyeri saat berhubungan intim.
Bagaimana kanker ini bisa timbul? Ketika sel-sel telur menembus selubung ovarium pada saat ovulasi, selubung tersebut mengalami sedikit kerusakan –kadang-kadang bahkan sampai terjadi sedikit perdarahan. Kemudian sel-sel baru tumbuh untuk menggantikan sel-sel yang telah rusak. Kadang-kadang, sebuah sel abnormal tercipta dan sel itu pada akhirnya dapat menjadi sebuah sel kanker yang ganas. Namun, para ahli masih belum mampu memastikan faktor apa yang memicu tumbuhnya sel-sel abnormal ini. Sel-sel kanker dapat tumbuh keluar dari ovarium serta menyebar ke berbagai jaringan dan organ di dekatnya. Bila kanker indung telur yang diderita oleh seorang wanita mulai mengalami penyebaran, maka ia cenderung untuk menyebar ke peritoneum (selaput dinding perut) dan diafragma (sekat rongga badan). Terkadang, sel-sel kanker juga dapat menyebar melalui pembuluh darah atau pembuluh getah bening. Apabila keadaan ini terjadi, maka sel-sel kanker dapat menyebar dan tumbuh sebagai jaringan-jaringan tumor baru di berbagai bagian tubuh yang lain. Jadi, apa saja faktor risikonya? Para ahli telah menemukan sederetan faktor spesifik yang dapat meningkatkan risiko seorang wanita mengidap kanker indung telur jenis epitelial. Faktor-faktor tersebut diantaranya:
* Usia: Sebagian besar kanker indung telur mulai berkembang setelah seorang wanita memasuki masa menopause. Lebih kurang setengah dari kasus kanker indung telur ditemukan pada wanita-wanita yang telah berusia lebih dari 65.
* Riwayat reproduksi: Para wanita yang mulai datang bulan sebelum usia 12, tidak memiliki anak atau memilikinya setelah usia 30, dan/atau mengalami menopause setelah usia 50, kemungkinan memiliki risiko mengidap kanker indung telur yang lebih besar.
* Penggunaan obat-obat kesuburan: Setelah melakukan serangkaian penelitian, para ahli menemukan bahwa penggunaan obat-obat kesuburan dalam waktu lama dapat meningkatkan kemungkinan timbulnya kanker indung telur. Apalagi bila pemakainya tidak pernah berhasil mencapai kehamilan.
* Riwayat kanker indung telur dalam keluarga: Risiko mengidap kanker indung telur para wanita dapat meningkat bila ada anggota keluarga mereka yang mengidap kanker tersebut. Sekitar 10 persen kasus memiliki riwayat kanker indung telur dalam keluarga.
* Riwayat kanker payudara: Para wanita yang pernah mengidap kanker payudara ternyata memiliki risiko yang lebih besar juga untuk mengidap kanker indung telur.
Sebagai informasi, faktor-faktor risiko di atas tidak berlaku untuk kedua jenis kanker indung telur yang lain. Kesulitan untuk melakukan deteksi dini Para wanita dan dokter boleh dikatakan 'buta' ketika berbicara mengenai pemeriksaan dan deteksi dini. Pada saat ini masih belum ada jenis pemeriksaan dan metode deteksi terbaik untuk kanker ovarium. Hal terbaik yang dapat dilakukan adalah menyarankan agar para wanita melakukan pemeriksaan fisik dan panggul secara rutin setiap tahun. Selama suatu pemeriksaan panggul, dokter akan menilai keadaan kedua indung telur dan rahim untuk mengetahui ukuran, bentuk, dan konsistensinya. Para dokter mungkin akan merekomendasikan pemeriksaan USG transvagina bagi para wanita yang berisiko tinggi. Pemeriksaan ini dilakukan dengan memasukkan sebuah instrumen lewat vagina dan hasilnya ternyata cukup dapat diandalkan. Para dokter mungkin juga akan melakukan suatu tes darah CA-125 bagi mereka yang berisiko tinggi. CA-125 merupakan suatu senjata yang cukup ampuh untuk memonitor apakah kanker indung telur yang telah diobati mulai kambuh kembali. Namun hasil-hasilnya sebagai sebuah alat pemeriksaan awal seringkali keliru dan menyesatkan.
